Sekolah dan bekerja jarak jauh kini sudah memasuki minggu kelima-nya. Dalam minggu kelima ini, sudah banyak yang terjadi, sudah banyak yang dirasa, sudah banyak penyesuaian diri yang dilakukan, dan sudah banyak juga hal yang dicapai. Pencapaian bukanlah berarti selalu berupa nilai atau target terentu. Jika kita melihat dari perspektif yang berbeda, pencapaian ini bisa berarti bagaimana sikap kita dalam menjalani semua proses ini.
Dalam kegiatan belajar di rumah misalnya, banyak orang yang merasa kesulitan dalam menjalaninya. Anak, orangtua, dan juga guru mengalaminya. Namun bagi orang dewasa (baca: khususnya orangtua yang sudah memiliki anak) tentunya diharapkan bisa menyesuaikan diri segera sebelum menjadi pendamping belajar bagi anak di rumah. Anak adalah penangkap emosi yang baik. Mereka bisa menangkap emosi yang mungkin tanpa sadar tertransferkan oleh orang tuanya khususnya saat belajar.
Ayo transfer emosi positif dalam mendampingi proses belajar anak! Antusiasme, optimisme, memiliki minat mencari tahu yang tinggi, dan berbagai emosi positif lainnya adalah emosi positif yang bisa ditularkan kepada anak. Emosi-emosi positif ini tentunya dapat menambah semangat anak dalam belajar. Ini adalah masa-masa anak di mana mereka membutuhkan pendampingan yang lebih intens dari orangtuanya. Baik itu dalam mendampingi mereka dalam belajar, maupun dalam mendampingi mereka dalam memahami situasi di masa pandemi seperti sekarang ini.
Berdiam diri di rumah saja yang sudah memasuki minggu kelima ini adalah pencapaian yang tidak mudah, khususnya bagi anak-anak. Mereka yang biasa bermain bersama teman, berlari bebas ke tempat yang diinginkannya, dan melakukan berbagai hal yang diinginkannya di luar sana. Ini pun merupakan hal yang membutuhkan pemahaman mendalam. Ketika orang dewasa bisa menerima dengan cepat bahwa ada phisical distancing yang perlu dilakukan untuk menghentikan penyebaran virus. Bagi anak ini bukanlah konsep yang bisa langsung diterima langsung. Mereka membutuhkan visualisasi mengenai konsep phisical distancing ini untuk dapat dipahaminya. Hingga akhirnya mereka dapat paham dan bersabar untuk tetap di rumah saja hingga keadaan lebih kondusif ke depannya.
Yuk, berusaha untuk tularkan emosi positif!
Emosi positif pangkal sehat lho!