Mengapa kita merasa kesal ketika diberi masukan?
Mungkin karena kita merasa sudah benar, lantas (merasa) tak perlu diberi masukan. Bisa jadi juga karena kita merasa sudah mengerahkan segala daya upaya, tapi malah mendapatkan reaksi yang tidak sesuai dengan prediksi (baca: diminta memperbaiki atau bahkan mengganti pekerjaan kita). Bisa juga karena cara pemberi masukan yang membuat seakan semua yang sudah kita lakukan sama sekali tidak ada artinya.
Kalau kita coba pilah penyebabnya terbagi menjadi dua, yakni penyebab dari dalam diri dan luar diri. Kita coba lihat dari penyebab yang ada dalam lingkaran pengaruh kita, yakni penyebab yang berasal dari dalam diri. Untuk penyebab dari luar diri, itu adalah sesuatu yang mungkin ada di luar kendali kita. Kita coba fokus pada area yang bisa kita perbaiki dulu ya.
Pada intinya, kita merasa kesal karena merasa tidak dihargai. Kalau kita lihat dari sudut pandang yang berbeda, merasa tidak dihargai ini adalah salah satu wujud dari pikiran negatif lho. Pikiran negatif kita akan reaksi dari luar (pemberi masukan). Coba kita pakai sudut pandang lain. Bagaimana jika kita melihat itu sebagai media kita belajar. Belajar untuk bisa melihat berbagai hal dari sisi positif dan belajar untuk bisa meningkatkan kemampuan atau keterampilan kita dalam bidang pekerjaan kita. Kalau bahasa lainnya adalah belajar mental dan konten.
Sekarang kalau kita tetap memandang masukan sebagai sebuah kritik yang melukai harga diri kita, ini hanya akan membuat kita kehilangan motivasi dalam bekerja. Kehilangan motivasi ini bisa berpengaruh kepada keseharian kita lainnya. Padahal kita sadari bukan jika dunia pekerjaan ini bukanlah terjadi satu atau dua hari saja, tapi ada lima hari dalam satu minggu!
Sudut pandang mana yang akan kamu pilih? Rasa kesal adalah salah satu rasa yang hadir dalam hidup kita. Itu adalah wajar ketika kesal menjadi respon awal kita dalam menerima masukan. Tapi selanjutanya hendaknya kita memilih sudut pandang yang sesuai dalam menyikapinya. Hal ini bukan hanya berlaku untuk urusan pekerjaan kantor saja. Hal ini bisa kita terapkan dalam berbagai situasi. Ketika kita berinteraksi dengan anggota keluarga, sahabat, dan berbagai lingkungan sosial lainnya.
Selamat beraktifitas dan selamat memilih sudut pandang!