Di tengah tantangan besar pengelolaan sampah di Kota Ambon, khususnya volume yang mencapai ratusan ton per hari, muncul sebuah inovasi menarik dari pihak pemerintah kota melalui DLH Ambon yang pantas mendapatkan sorotan. Inovasi ini bukan hanya perbaikan teknis, namun mengajak masyarakat berperan aktif yang bisa menjadi pelopor bagi kota‑kota lainnya.
Kota Ambon menghadapi beban lingkungan yang serius. Sebagai contoh: DLH Ambon mengungkap bahwa volume timbulan sampah di kota ini mencapai sekitar 246,74 ton per hari, sedangkan daya angkut yang tersedia hanya mencapai sekitar 185,5 ton. Selain itu, dari perairan Teluk Ambon pun tiap hari diangkut sekitar 3‑4 ton sampah oleh DLH. Kondisi topografi, jalur pengangkutan yang belum seluruhnya terlayani, dan rendahnya kesadaran masyarakat dalam membuang sampah pada tempatnya menjadi hambatan utama.
DLH Ambon pun melakukan berbagai langkah mulai dari perbaikan fasilitas tempat pembuangan sementara (TPS) di titik‑titik strategis. Namun yang paling menonjol adalah inovasi berbasis masyarakat: program penukaran sampah plastik dengan nilai uang.
Program inovatif: “Tukar Plastik, Tukar Nilai”
Pada tanggal 5 September 2025, DLH  Ambon meluncurkan program penimbangan sampah plastik yang dipilih dan bersih untuk ditukar. Ketentuan‑utama program ini: sampah plastik yang akan ditimbang harus terlebih dahulu dipilah dan dibersihkan, baru kemudian ditimbang dan diberi nilai. Dalam peluncuran perdana, DLH menyiapkan anggaran Rp 50 juta untuk 10 ton sampah plastik. Program ini memperoleh dukungan dari mitra seperti PT Angkasa Pura I Bandara Internasional Pattimura Ambon.
Tujuan dari program ini bisa dirangkum sebagai berikut :
- Mengurangi timbulan sampah plastik yang menjadi bagian besar dari persoalan sampah Kota Ambon.
- Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memilah dan membersihkan sampah, bukan hanya membuangnya.
- Meringankan beban pengangkutan sampah konvensional dan memperkuat upaya pemrosesan di sumber.
- Memicu kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, komunitas lingkungan, dan sektor swasta.
Kenapa program ini inovatif?
Beberapa aspek inovasi yang terlihat :
- Insentif langsung kepada masyarakat: Dengan memberikan nilai uang/pertukaran, masyarakat punya motivasi konkret untuk ikut serta bukan hanya pemahaman lingkungan.
- Tahapan pemilahan dan pembersihan: Ini menunjukkan bahwa kualitas sampah yang dihasilkan menjadi perhatian supaya proses selanjutnya (pengangkutan/pemrosesan) bisa lebih efisien.
- Kemitraan multi‑pihak: Tidak hanya DLH, melibatkan bandara dan komunitas lingkungan menunjukkan bahwa pengelolaan sampah bukan hanya tugas OPD saja.
- Skala yang bisa ditingkatkan: Meski program awal 10 ton, pendekatan ini bisa diperluas ke seluruh kelurahan/desa sehingga menjadi program rutin. DLH memang berharap kegiatan ini dilaksanakan tiap bulan.
- Mengaitkan perilaku masyarakat dengan sistem pengelolaan: Tidak hanya “bersih kota”, tapi mengubah kebiasaan memilah, membersihkan dan menyerahkan sampah secara terstruktur.
Tantangan dan catatan penting
Namun, seperti semua inovasi, ada juga sejumlah catatan yang perlu diperhatikan agar keberhasilan dapat dipastikan :
- Kesinambungan: Program harus rutin, tidak hanya ad‑hoc. Kalau hanya sekali, efek jangka panjangnya akan terbatas.
- Monitoring dan evaluasi: Seberapa banyak sampah plastik yang berhasil dikumpulkan? Seberapa banyak yang benar‑benar sudah bersih dan bisa diproses? DLH harus punya data jelas.
- Pemrosesan berikutnya: Kumpulkan plastik, lalu apa? Apakah didaur ulang secara lokal atau diproses di luar? Efisiensi rantai pengolahan harus dipastikan agar tidak hanya “kumpul” tapi juga “selesai”.
- Perluasan jangkauan: Kota Ambon memiliki wilayah yang perbukitan, jalur yang sulit jangkau, dan beberapa desa/kelurahan yang belum terdampak. Program ini perlu sampai ke tingkat desa/kelurahan agar tidak menjadi hanya perkotaan inti.
- Kesadaran masyarakat: Meski ada insentif, budaya membuang sampah sembarangan masih ada. Program lepas dari perilaku masyarakat bisa kalah cepat. Hal ini juga disadari oleh DLH.
Dampak yang diharapkan dan pandangan kedepan
Dengan berhasilnya program seperti ini, DLH Ambon diharapkan bisa mencapai beberapa hasil :
- Pengurangan signifikan timbulan sampah plastik di Kota Ambon.
- Efisiensi dalam biaya pengangkutan dan pemrosesan sampah karena sampah sudah lebih siap.
- Peningkatan kualitas lingkungan kota — kota yang bersih, nyaman, dan memiliki citra baik sebagai kota pantai dan destinasi wisata.
- Munculnya kultur baru di masyarakat: memilah, membersihkan, dan menyerahkan sampah sebagai bagian rutinitas warga.
- Model yang bisa direplikasi oleh kota‑kota lain di Indonesia, khususnya wilayah pesisir dengan tantangan serupa.
Inovasi “Tukar Plastik, Tukar Nilai” dari DLH  Kota Ambon menjadi contoh nyata bahwa pengelolaan sampah tidak harus selalu berupa investasi besar atau alat berat, tapi bisa juga melalui perubahan perilaku yang dibarengi insentif konkret dan kerjasama lintas sektor. Dengan strategi yang tepat, Kota Ambon dapat bergerak lebih cepat menuju visi “Ambon Bersih” yang berkelanjutan dan menjadi inspirasi bagi daerah lain.