Berjarak dengan gawai, ini bukanlah sebuah isu yang baru. Sudah dari beberapa tahun ke belakang, ini menjadi perbincangan khususnya bagi orangtua yang sudah memiliki anak. Bahkan sampai ada meme yang menggambarkan betapa seorang anak ingin menjadi gawai kerena orangtuanya tak bisa lepas dari gawai. Gawai menjadi sesuatu yang selalu mendapatkan respon. Melihat hal tersebut sang anak kemudian mengatakan bahwa betapa membahagiakannya menjadi gawai karena tak lepas dari genggaman ayah bundanya dan selalu direspon ketika ia berdering.
Di masa digital seperti sekarang ini, gawai memang (seakan) menjadi sesuatu yang wajib dipunyai oleh setiap orang. Berkomunikasi, bekerja, belajar, berbelanja, bertransaksi, berkonsultasi, dan banyak hal lainnya lagi yang dilakukan orang-orang bersama dengan gawainya. Gawai menghubungkan seseorang dengan yang lainnya walaupun terpisah jarak. Gawai bisa mendekatkan jarak. Tapi di saat yang sama, gawai juga bisa menjauhkan jarak antar orang-orang yang justru jarak fisiknya sudah dekat.
Lantas apa yang bisa kita lakukan dengan situasi seperti itu? Sudah menjadi rahasia umum bukan bahwa kini urusan pekerjaan haruslah bisa terus terkontrol walaupun kita sudah tidak berada lagi di kantor. Pulang kantor, bagi sebagian orang mungkin hanya pulang fisiknya saja, namun pkirannya masih terus ‘tertinggal’ pada kantor. Bagaimana dengan kehidupan pribadi seseorang jika kantor seolah menjadi sesuatu yang harus terus-menerus direspon. Kapan seseorang bisa merespon urusan pribadinya? Ya, urusan pribadi adalah penting. Urusan pribadi juga punya hak untuk direspon.
Ketika lingkaran pekerjaan menjadi lingkaran yang ada di luar kendali kita, kendalikanlah apa yang ada di lingkaran pengaruh kita. Pengaturan waktu! Kita bisa mengatur waktu kapan kita membuka dan merespon gawai. Kita juga perlu mengatur waktu untuk available dan merespon kebutuhan rumah.