Breaking
New lifestyle trends taking over Jakarta • Tech giant releases new gadget • Local elections update
Tips Pendidikan 5 min read Maret 06, 2020

Mandiri vs Komunikasi Pada Anak

Author

Mandiri, rasanya ini adalah salah satu sikap yang ingin dilatihkan oleh setiap orangtua kepada anaknya. Ada berbagai alasan mengapa orangtua ingin anaknya tumbuh menjadi pribadi yang mandiri. Sebut saja, agar ia bisa survive dalam menghadapi tantangan hidupnya ke depan, agar ia tidak bergantung kepada orang lain, agar ia bisa meraih cita-citanya, dan berbagai tujuan lainnya.

Ada berbagai metode juga dalam mengajarkan kemandirian ini. Salah satunya dengan membiasakan anak menjalankan berbagai aktivitasnya sendiri. Sebut saja mengerjakan PR, mengatur keperluan belajarnya, mengatur pakaiannya, dan lain sebagainya.

Ini adalah baik mengajarkan kemandirian kepada anak. Namun ada hal penting yang juga tampaknya perlu diperhatikan para orangtua dalam melatih kemandirian ini. melatih mandiri memang salah satunya adalah dengan membiasakan anak mengurus berbagai kebutuhannya sendiri. Tapi, jangan sampai karena anak terbiasa mandiri, ada dialog-dialog yang hilang ketika anak mengurusi berbagai kebutuhannya. Misal, tak ada lagi pemantauan orangtua terhadap pengerjaan PR anaknya. Jangan sampai orangtua tidak tahu anaknya sedang belajar apa di sekolah.

Di tengah banyaknya orangtua yang mengeluh tentang kemandirian anak, aku pernah berbincang dengan orangtua yang justru menceritakan hal yang sebaliknya. Ia menceritakan bahwa anaknya terlalu mandiri, sampai-sampai ia merasa anaknya tidak lagi membutuhkan (peran) ibunya. Ibu ini adalah ibu yang sehari-harinya bekerja sebagai karyawan swasta, sejak kecil ia sudah memandirikan anaknya untuk melakukan berbagai aktivitasnya. Namun ia terkaget-kaget di satu hari libur, di kala ia ingin menemani anaknya mengerjakan PR, seolah-olah anak tersebut tidak memerlukan bantuan apa-apa. Di sini lah Sang Ibu termenung dan menyadari hal apa yang luput diajarkannya. Hal ini bukan luput ia ajarkan kepada anaknya, tapi ia sendirilah yang luput mengingat hal ini. Betapa ia kehilangan momen berkomunikasi dengan anak. Ketika semua sudah dapat berjalan secara otomatis dengan ‘mandirinya’, ingat bahwa komunikasi tetaplah penting. Ketika anak Anda sudah mandiri, tetaplah ajaklah berkomunikasi, tanyalah tentang perasaannya, tentang hari-harinya. Mandiri itu memang perlu, tapi bukan berarti ia pun harus ‘berkomunikasi mandiri’ bukan?